Jumat, 30 Oktober 2015

Nilai Diri Kita

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:

“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”

Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan.

***

Cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000

Seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.

Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.

Akhlak adalah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.

Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.

Selasa, 13 Oktober 2015

6 pertanyaan

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.

Pertama
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab.... "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ..
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. ..
Sebab kematian adalah PASTI adanya....

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" ...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar...
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".. ..
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi ...
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai
nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru...
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan terakhir adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan
melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan kematian, senantiasa belajar dari masa lalu, dan tidak memperturutkan nafsu?

Sudahkah kita mampu mengemban amanah sekecil apapun dengan tidak meninggalkan ibadah serta senantiasa menjaga lidah kita ?

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sapu lidi

Satu siang di Bekasi, lampu merah menyala. Seorang nenek-nenek renta dengan hanya sebelah tangan menawarkan sapu lidi, sebelah tangannya lagi tidak nampak, hanya terlihat pangkal lengan yang kosong. Hatiku nyeri, kuturunkan kaca mobil,

“Berapa Nek ?” 

“Sepuluh ribu, Mas”

Kuulurkan sepuluh ribuan, kukira aku akan mendapat satu sapu lidi. Tapi nenek-nenek itu mengangsurkan semua, tiga sapu lidi yang dipegang dengan sebelah tangannya yang tersisa.

“Saya cuma beli satu Nek” kataku ragu

“Enggak pa pa, Mas. Tiga-tiganya ini sepuluh ribu” jawab nenek itu

Lalu nenek itu mengucapkan terima kasih yang diteruskan dengan rentetan doa untuk keselamatan dan keberkahan bagiku. Sepuluh ribu untuk tiga sapu lidi, dan untuk doa yang tak ternilai harganya.

Tapi tiba-tiba,
“Ngapain sih beli begituan ?” hmmmmm, teman seperjalananku protes

“Nggak liat kenapa ?” jawabku rada sengak juga

“Sepuluh orang aja seperti kamu, seratus ribu sehari, tiga juta sebulan”

Aku memilih diam

“Gaji pramuniaga saja nggak sampai segitu”

“Nenek itu nggak mungkin jadi pramuniaga, Mas” balasku..

“Tiga juta sebulan dari sapu lidi begituan” masih saja bersungut-sungut.

“Oke, kamu gantian jadi nenek itu, tiga juta sebulan. Mau ?!!”.

Huhhhh, hilang semua protes.

Apa susahnya berbagi sedikit keberuntungan kita, untuk ketidakberuntungan orang lain? 

Ngomong-ngomong, aku sendirian di mobil, jadi kenalkan, itu tadi sisi diriku yang lain.

Selasa, 29 September 2015

Bukan saya, Bos !!!

Ini cerita tiga orang sahabat yang sedang bertugas ke suatu daerah di luar pulau asal mereka. Mereka tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah itu dirawat oleh seorang pribumi setempat, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Selama beberapa hari semua urusan berjalan dengan lancar, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya.

Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang. Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan ternyata jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari. Sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang pribumi setempat, penunggu rumah yang lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah. 

Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali botol anggur tersebut seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur. 

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya! Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut "Not me, Boss! Selama ini saya hanya menggunakannya untuk keperluan memasak hidangan para Boss!" 

Sahabat, terlalu banyak kejadian yang akhirnya justru menyiksa kita sendiri, hanya karena kita malas, atau malu untuk bertanya. Kita memilih berasumsi yang belum tentu benar ketimbang mencari jawaban langsung dengan menanyakannya kepada orang yang bersangkutan. Dan terkadang hasil dari sebuah asumsi itu hanya melahirkan hal-hal lainnya yang lebih rumit, dibandingkan bila kita langsung mencari pokok masalah dengan bertanya kepada sumbernya. Satu hal lagi yang mungkin agak parah, kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu terjadi, hanya karena kita terlalu sering berasumsi.