Rabu, 29 April 2015

Sakit mengurangi dosa

Tak perlu Anda bersedih dalam sakit karena itu adalah ujian dalam ibadah Anda. Salah satu bukti kasih sayang-NYA adalah, Tuhan mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit. Berikut adalah penjelasannya.

“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”




Ujaran Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :

"Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya."

Allah memerintahkan :
  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.


Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : "Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”

Allah menjawab : “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan ini , maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”


Disadur dari Kitab Klasik Al Mawa’izh al Ushfuriah

Jumat, 24 April 2015

Pecel lele


Tadi sepulang beli pecel lele, saya ngepit (baca : naik sepeda) dari jalan wonosari belok masuk jalan kampung. di emperan sebuah toko di sebelah kanan jalan kampung tepat saat saya berbelok, saya lihat seorang bapak yang sedang duduk sambil makan sesuatu. beliau memakai kaos oblong warna putih dan celana pendek warna biru yang sudah terlihat lusuh. di depannya sebuah plastik kecil yang mungkin berisi makanan.

Beliau melihat saya, saya pun melihat beliau. lalu beliau tersenyum kepada saya, senyum khas orang jogja. saya pun membalas senyumannya sambil menundukkan kepala, dan berlalu.

Dalam hati saya berkata, "subhanallah. Allahuakbar." 

Bapak itu dengan segala yang beliau miliki saat itu (hanya sepasang pakaian dan sebuah tas plastik berisi makanan yang saya lihat), beliau masih bisa tersenyum kepada saya. keliatan sekali senyumnya tulus. senyumnya ikhlas. senyumnya sabar. senyumnya bersyukur. bahkan dengan segala keterbatasan beliau, beliau masih bisa ikhlas, masih bisa bersabar, masih bisa bersyukur.

Lha saya?
dibanding beliau yang berteduh di emperan toko, saya masih bisa tidur di atas kasur di dalam kamar yang nyaman,
dibanding beliau yang hanya makan seadanya, saya masih bisa makan pecel lele,
dibanding beliau yang berpakaian kaos dan celana pendek lusuh, saya punya setumpuk pakaian tertata rapi di lemari,
lalu saya masih bisa internetan, bisa nonton tv, punya henpon, bisa hunting sepur, masih bisa naik sepeda othel, bisa dengar musik, dan lain sebagainya,
saya pun masih bisa minum air bersih, sedang bapak tadi... saya tidak melihat botol air minum di dekatnya.

Dengan segala kelebihan saya, tadi siang dan sore saya masih mengeluh kepada Allah. meminta mencukupi kekurangan saya.

KEKURANGAN SAYA....???

dibanding Bapak tadi, saya kurang apa...!!!???

astaghfirullahal 'adzim
saya kurang bersyukur

hujan turun rintik-rintik

Kamis, 23 April 2015

Tidak ada yang kebetulan

Pernahkah saat kau duduk santai dan menikmati harimu, tiba-tiba terpikirkan olehmu ingin berbuat sesuatu kebaikan untuk seseorang ?

Itu adalah Allah yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk pintu hatimu (QS 4:114, 2:195, 28:77).

Pernahkah saat kau sedang sedih, kecewa tetapi tidak ada orang di sekitarmu yang dapat kau jadikan tempat curahan hati?

Itulah adalah Allah yang sedang rindu padamu dan ingin agar kau berbicara pada-NYA (QS 12:86).

Pernahkah tanpa sengaja kau memikirkan seseorang yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba orang tersebut muncul, atau kau bertemu dengannya, atau kau menerima telepon darinya?

Itu adalah Kuasa Allahyang sedang menghiburmu. Tidak ada yang namanya kebetulan (QS 3:190-191).

Pernahkah kau mendapatkan sesuatu yang tidak terduga, yang selama ini kau inginkan tapi rasanya sulit untuk didapatkan?

Itu adalah Allah yang mengetahui dan mendengar suara batinmu serta hasil dari benih kebaikan yang kau taburkan sebelumnya (QS 65:2-3).

Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, semua terasa begitu sulit, begitu tidak menyenangkan, hambar, kosong bahkan menakutkan ?

Itu adalah saat Allah mengizinkan kau untuk diuji, Dan Allah ingin mendengar rintihan serta do'amu agar kau menyadari akan keberadaan-NYA.... Karena DIA tahu kau sudah mulai melupakan-NYA dalam kesenangan (QS 47:31, 32:21).

Jika kau peka, akan sering kau sadari bahwa KASIH dan KUASA Allah selalu ada di saat manusia merasa dirinya tak mampu. TIDAK ADA YANG KEBETULAN..

Beberapa menit ini tenangkanlah dirimu, rasakan kehadiran-NYA..., dengarkan suara-NYA yang berkata : "Jangan khawatir, AKU di sini bersamamu" (QS 2:214, 2:186).

Semoga Allah betul-betul hadir di kehidupan kita dan berkenan hadir di kehidupan kita; baik di kala senang, atau di kala susah. Baik di kala bahagia, maupun di kala duka. Baik di kala lapang, maupun di kala sempit. Di semua keadaan, semoga Allah yang selalu bersama kita, dan senantiasa kita bersama-Nya. Aamiin...

Marilah kita berdoa, bermunajat kepada Allah. Semoga Allah mengampuni kita, dan menghapuskan kita dari segala dosa yang telah lalu.

Ya Allah,
Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu agar kami senantiasa dekat kepada-Mu hingga akhir hayat.

Aamiin ya Rabbal'alamin

Selasa, 21 April 2015

SHAY

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik: 

Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? 

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia” 

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut: 

Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat. 

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim. 

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya. 

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu. 

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay. Sang Pitcher lalu mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher. 

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir. Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya. 

Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!” Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga. 

Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay” Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya. 

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia. Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya. 

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.



Senin, 20 April 2015

Pencuri Impian

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepukan kepadanya. 

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya: “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya”. “Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit”, jawab sang pakar. 

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun. 

Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan menari lagi. 

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan. 

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. 

Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?” 

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari”, jawab sang pakar. 

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “Ini tidak adil”, seru si ibu muda. “Sikap anda telah mencuri semua impian 

saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!” 

Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak …. Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktidkan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impina Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.“ 

“Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas Anda meminta pujian dari orang lain.” 

“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.” 

Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati Anda akan cepat hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan Anda hari ini tidak pernah bisa hilang selama-lamanya.”

Minggu, 19 April 2015

Kakak

Kulihat kembali tumpukan surat kabar di rak meja ruang tamu. “Kecelakaan Garuda Tewaskan Ratusan orang,” itulah topik yang selalu diberitakan dan menjadi hampir di semua surat kabar nasional yang terbit sekitar sebulan lalu. Tragedy itu jugalah yang menewaskan kedua orang tuaku dan membuat adikku satu-satunya terbaring koma sampai detik ini. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah, dan benci yang teramat sangat. Kalau saja Tita adikku, tidak selalu merengek ingin liburannya ke Paris, pasti kecelakaan itu tidak akan membuatku, yang masih menjadi mahasiswa tingkat III, menjadi yatim piatu secepat ini.

Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakanbetapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi kehadiran seorang adik di tengah-tengah kami menjadikan hidupku berubah 180 derajat. Mama lebih memperhatikan Tita, dan menyuruhku selalu mengalah. Tidak hanya itu, kedua orang tuaku pun selalu membelanya meskipun jelas-jelas Tita-lah yang bersalah. Ibarat putri raja yang seketika menjadi anak tiri. Menyebalkan !!! Kebencian itu sudah kupupuk semenjak mama dinyatakan positif hamil. Dan setiap hari hanya stress yang aku rasakan bila sudah berada di dalam rumah, karena tidak ada sedetik pun yang terlewat bahi Tita untuk tidak mengganguku.

Kejadian kecelakaan itu tidak membuat setitik pun rasa iba, bahkan kebencianku semakin memuncak padanya. Dialah yang merebut kebahagiaanku, dan dialah yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian itu benar-benar membawa kesialan bagi kehidupan pribadiku. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk jalan dengan teman-temanku. Bahkan Indra, pacarku, memutuskan hubungan kami hanya karena aku terlalu sibuk dengan Tita. Selama sebulan di rumah sakit, aku baru menjenguk Tita 3 kali, itupun hanya untuk mengurus administrasi dan sekerdar formalitas di depan dokter saja.

Hari ini aku menjengik Tita. Gadis kecil yang diperlengkapi dengan selang dan alat bantu kehidupannya lainnya itu, terbaring di ruang ICU yang cukup luas dan bernuansa putih-putih. Saat melihat wajah itu hatiku selalu menjerit, “Dasar Pembunuh!! Kenapa kamu tidak mati saja sekalian! Anak sial, kamu tidak hanya merebut mama dan papa tapi teman-teman saya, Indra, dan semua kebebasan saya!!” tak terasa air mata mengalir di pipiku, bukan air mata kesedihan, tapi jelas air mata kebencian. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya saja sekalian. Kehidupannya hanya akan menjadi beban seumur hidupku!!

Tak kuasa menahan tangis, akhirnya aku keluar menuju taman rumah sakit dan duduk di salah satu bangku taman yang terlindung sengatan matahari oleh sebuah pohon yang rindang. Dan di situlah air mataku mengalir deras. Tiba-tiba kusadari ada gadis kecil dengan rambut dikuncir dua sedang memperhatikanku. Seketika itu pula aku teringat Tita, dan kebencian itu mendidihkan darahku kembali.

“Ngapain sih? Tidak ada kerjaan apa ngeliatin orang nangis. Anak kecil kayak kamu bukannya sekolah malah main-main di rumah sakit!” bentakku.

Yang dibentak hanya tersenyum.

“Namaku Rara, kakak siapa?”

“Yee… nih anak bukannya pergi. Udah deh, kakak lagi stress, jangan bikin kepala kakak jadi mumet.”

“Semua orang yang ke rumah sakit pasti mumet, tapi itulah hidup, kadang sehat, kadang sakit. Orang suka lupa sama tuhan kalau lagi sehat, tapi kalau sakit, apalagi deket-deket mau meninggal, eh bukannya taubat malah nyalahin Tuhan, kok tuhan ngasih cobaan seberat ini,” jawabnya yang membuatku melongo.

“Ih, dasar anak kecil sok tahu!!”

“Aku tahu, adik kakak sedang koma ya”

“Gak usah dibahas deh!! Gara-gara dia, mama dan papa meninggal.”

“Dia beruntung karena dia masih punya kakak. Aku juga sakit. Suatu saat nanti Tuhan akan mengambil penglihatanku, tapi aku yakin Tuhan akan membantu dalam kebutaanku karena Dia selalu adil pada semua orang, dan tidak akan membiarkan seorangpun mendapat cobaan yang tidak bias ditanggungnya.”

***

Kejadian hari itu benar-benar telah membuka mata hatiku. Seorang anak kecil telah mengajarkanku arti kehidupan. Ia benar, Tita hanya tinggal memilikiku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana perasaannya saat ia tahu mama dan papa telah meninggal.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku malah merindukan kehadiran Tita. Rumah ini benar-benar sepi tanpa canda dan kata-kata polosnya yang selalu membuat mama terpingkal-pingkal. Kulangkahkan kakiku ke kamar Tita di lantai atas. Kamar yang bernuansa pink, gambar kartun dimana-mana. Kamar yang tak pernah kudatangi sejak tragedi itu.

Tiba tiba mataku menangkap sebuah buku harian bergambar mickey mouse. Kubuka lembar demi lembar. Tak kusangka gadis berusia 7 tahun itu menulis segalanya tentang diriku.

“Kak Aurora adalah kakak paling cantik di dunia. Aku sayang padanya, amat cinta padanya. Aku hanya ingin kakak bahagia, aku ingin seperti teman-teman, aku ingin kakak mengajakku jalan-jalan, aku ingin kakak mengajariku matematika, karena dia sangat pintar. Tapi kok kakak tak pernah mau ya?? Aku sedih. Aku pernah Tanya sama mama apa kakak membenciku, tapi kata mama kakak sangat saying padaku, dia Cuma tidak enak badan, makanya malas ngomong sama aku. Aku suka ngejailin kakak, karena aku mau main sama kakak, tapi aku sedih karena kakak menampar mukaku. Aku tidak bilang sama papa, takut kakak dimarahi, dan nanti malah membenciku. Aku nangis semalaman saat kakak membuang kado ulang tahun yang aku kasih, padahal aku membeli kado itu dengan uang jajan yang aku tabung selama seminggu, sampai-sampai aku lapar karena tidak bisa jajan. Kakak,marah-marah waktu baju pestanya bolong. Tadinya aku Cuma ingin menyetrika baju itu biar tidak kusut, tapi pas lagi nyetrika, aku dipanggil mama, eh aku lupa, bajunya jadi bolong, terus aku dimarahin abis-abisan deh.

Diari, aku punya rahasia besar!! Kakak kan punya pacar namanya Indra, tapi aku tidak suka sama dia!! Aku tau dia punya pacar lain, kak veronica, sahabat kak Aurora. Aku pernah liat meraka mesra-mesraan waktu aku nganterin mama ke mall. Tapi aku tidak berani bilang karena aku takut kakak marah dan tidak percaya, aku takut ditampar kayak waktu itu. Asyiik… besok aku ke Paris sama mama dan papa, tapi kakak tidak ikut karena lagi ujian, tapi aku janji akan beliin oleh-oleh yang buaaaanyak untuk kakak. Aku ingin kakak juga bahagia…”

Air mataku mengalir deras, kapalaku seperti terhantam ombak. Ya Tuhan, bagaimana selama ini aku menyia-nyiakan adik kandungku. Kecintaannya kepadaku yang mendalam malah kubalas dengan kebencian yang membara. Kado itu, baju pesta itu, dan tamparan yang merupakan puncak kekecewaanku, rahasia tentang Indra…..BODOH!!! Kamu adalah manusia yang paling kejam di dunia, Aurora. Adik yang bagaikan malaikat itu telah kau sakiti hatinya! Telah kau robek perasaannya! Adik yang selalu mengingatmu dan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, malah kau tindas! Aku kembali teringat dengan tamparan itu. Aku menamparnya dengan sangat keras, sampai pipinya benar-benar merah, tapi ia hanya tersenyum dan bilang “Terima kasih, Kak.”

Ya Tuhan, izinkan aku untuk menebus dosa dan kesalahanku. Tapi….semua itu terlambat. Tepat pukul 23.00 WIB malam itu, pihak rumah sakit meneleponku dan mengabarkan Tita telah pergi untuk selama-lamanya.

Sekarang aku sendiri, hanya sendiri. Permohonan bodohku agar Tuhan mengambil nyawa adikku benar-benar terkabul. Seminggu setelah pemakaman Tita, aku kembali ke rumah sakit untuk menemui Rara, tapi pihak tumah sakit mengatakan bahwa Rara telah meninggal semingu yang lalu. Ia terlindas truk, karena pada saat menyeberang, penyakit gloukoma yang selama ini dideritannya telah menyebabkan kebutaan yang mendadak, sehingga ia tak mampu melihat saat ada truk yang melintas. Rara adalah gadis kecil yang selama ini dirawat oleh pihak rumah sakit. Dulu, Rara ditemukan di sebuah selokan karena dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.

Dua orang gadis kecil yang telah mengajariku arti kehidupan dan memberikan cinta kepadaku, kini telah pergi untuk selamanya. Hanya penyesalan yang tersisa, tapi itu menjadi pelajaran yang amat berarti untuk masa depanku. Merakalah malaikat kecil yang selalu ada dan tetap aka nada untuk selamanya di dalam hatiku