Selasa, 29 September 2015

Bukan saya, Bos !!!

Ini cerita tiga orang sahabat yang sedang bertugas ke suatu daerah di luar pulau asal mereka. Mereka tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah itu dirawat oleh seorang pribumi setempat, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Selama beberapa hari semua urusan berjalan dengan lancar, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya.

Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang. Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan ternyata jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari. Sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang pribumi setempat, penunggu rumah yang lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah. 

Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali botol anggur tersebut seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur. 

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya! Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut "Not me, Boss! Selama ini saya hanya menggunakannya untuk keperluan memasak hidangan para Boss!" 

Sahabat, terlalu banyak kejadian yang akhirnya justru menyiksa kita sendiri, hanya karena kita malas, atau malu untuk bertanya. Kita memilih berasumsi yang belum tentu benar ketimbang mencari jawaban langsung dengan menanyakannya kepada orang yang bersangkutan. Dan terkadang hasil dari sebuah asumsi itu hanya melahirkan hal-hal lainnya yang lebih rumit, dibandingkan bila kita langsung mencari pokok masalah dengan bertanya kepada sumbernya. Satu hal lagi yang mungkin agak parah, kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu terjadi, hanya karena kita terlalu sering berasumsi. 

Minggu, 27 September 2015

Tongkat punya siapa?

Suatu malam ketika hujan lebat , seorang penunggang kuda berhenti di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari tepian sungai. Dia ingin berteduh. Setelah mencari , akhirnya dia menemukan sebatang tongkat panjang dan menancapkan kuat-kuat, sehingga kudanya bisa ditambatkan disana.

Keesokan harinya , ketika akan berangkat meneruskan perjalanan dia berpikir bagaimana dengan tongkat ini apakah akan dibawa?

“Ah biarkan saja disini, siapa tau ada penunggang kuda lain yang bernasib sama seperti saya dan mau menggunakan tongkat ini!” Lalu dia meneruskan perjalanannya.

Tak lama kemudian lewatlah seorang petualang yang akan merambah hutan. Melihat tongkat yang berdiri tegak tertancap ditanah dia berpikir, ini akan membahayakan orang lain yang lewat apalagi jika malam hari, tentu akan tersandung, digeletakkan disisi lagi sehingga tidak mengganggu pejalan kaki dan diapun meneruskan perjalanannya bertualang.

Berikut lewat seorang pemancing yang akan memancing ikan tidak jauh dari tempat tersebut. Melihat ada sebuah tongkat panjang yang tergeletak dipinggir jalan, dia lansung berteriak “Aha...sudah dari tadi aku mencari tongkat untuk mengukur kedalaman sungai sehingga aku bisa memancing ke tengah sampai batas pinggang, akhirnya ketemu juga!”

Diapun membawa tongkat tersebut lalu dipakainya untuk mengukur kedalaman tepian sungai, agar dia bisa mendapatkan ikan yang lebih besar dengan memancing agak ke tengah sungai. 

Akhirnya memang benar, sang pemancing mendapatkan ikan yang cukup banyak dan besar-besar berkat tongkat panjang tersebut. Dengan muka berseri-seri , dia pulang sambil mengucapkan terimakasih kapada “tongkat” yang telah berjasa menolongnya untuk mengukur kedalaman tepian sungai. Selanjutnya dia berpikir tongkat tersebut tidak akan dibawanya pulang, namun dibiarkannya saja tergeletak ditepi sungai tersebut, siapa tahu ada pemancing lain yang membutuhkan agar sukacita yang dirasakannya sekarang karena memperoleh banyak ikan dapat dirasakan juga oleh pemancing lain kelak. Tongkatpun digeletakkan ditepi sungai, lalu dia pergi membawa hasil pancingannya.

Selang beberapa hari kemudian, tidak ada seorangpun yang melewati daerah tersebut dan tongkatpun tergeletak saja ditepi sungai. Semakin hari kayu tersebut semakin kering. Hingga lewatlah seorang lelaki pencari kayu yang sudah kesana kemari belum menemukan kayu kering. Kayu itu akan dijadikan kayu bakar untuk menanak nasi bagi keluarganya. Semua kayu yang diperoleh kurang bagus untuk memasak, hingga dia menemukan sebatang tongkat kering yang agak panjang untuk dijadikan kayu bakar. Dengan menggunakan parangnya, kayu tersebut dipotong-potong untuk dijadikan kayu bakar dirumahnya.

*** 
Sesungguhnya apa yang kita miliki saat ini hanyalah bersifat sementara, sehingga rasanya agak berlebihan jika seseorang mengklaim bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah miliknya yang abadi selamanya. Tidak ada satu orangpun di dunia ini bisa memiliki segala sesuatu tanpa sepengetahuan dan seizin sang khalik. Dia yang memberi dan Dia juga yang dapat mengambilnya dalam sekejap.

Itulah sebabnya semakin seseorang menerima dan memiliki segala sesuatu , baik fisik (harta) maupun non fisik ( jabatan, gelar, kompetensi) seyogyanya harus semakin hidup rendah hati, dan syukur. Sudah saatnya apa yang dimiliki dibagikan kepada orang lain, agar orang lainpun dapat merasakan Berkah Sang Khalik melalui uluran tangan kita. 

Orang yang memberi tidak akan pernah kekurangan. Namun mereka yang sulit memberi (pelit) justru akan selalu merasa kekurangan dan ketakutan. Didalam pemberian ada kebahagiaan dan kebersamaan. Melalui pemberian , kita menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu tidak sendiri dalam menjalani hari –hari kehidupannya.

Bukankah segala sesuatu ada masanya?

Ketika masa yang datang kurang menguntungkan dan menjadi beban (paceklik) , bukankah Sang Khalik dapat menggunakan tangan orang lain untukmenolong kita?

Tulisan ini mengisyaratkan kepada manusia bahwa kehidupan ini sesungguhnya sangat berkaitan dengan orang lain dan dalam rentang waktu tertentu.

Namun demikian mereka yang memiliki mental pecundang sulit untuk mengestafetkan tongkat yang dimilikinya. 

*** 

Perbedaan antara pemenang atau pecundang dalam mengestafetkan tongkat adalah, 

Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah

Pemenang selalu mempunyai program
Pecundang selalu mempunyai alasan

Pemenang berkata ; “Saya kerjakan bagi Anda”
Pecundang berkata : “Itu bukan tugas saya”

Pemenang selalu melihat jawaban dalam setiap masalah
Pecundang selalu melihat masalah pada setiap solusi

Pemenang berkata : “Walau sulit, tapi bisa dilakukan”
Pecundang berkata : “Mungkin bisa dilakukan, tapi sulit”

Apapun yang telah anda terima lebih daripada yang lain-dalam hal kesehatan, dalam talenta, dalam kompetensi, dalam kesuksesan dan kondisi rumah tangga serta karier, semuanya itu jangan dianggap sebagai suatu yang wajar. Dengan rasa syukur atas keberuntungan baik tersebut, anda harus rela mengorbankan kehidupan demi kehidupan sesama “ (Albert Schweitzer)

Selamat mengestafetkan tongkat anda.

Kamis, 24 September 2015

Lampu Merah

Dari kejauhan, lampu lalu lintas masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat. Apaagi ia tahu perempatan itu cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu menjadi kuning, hati Jono berdebar, berharap ia bisa melewatinya segera.

Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tidak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Priiiittttt. ....!!!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan meminta Jono untuk berhenti. Jono menepikan kendaraannya sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu.

Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jono agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

"Hai Bob, senang sekali bertemu kamu lagi!"

"Hai Jon," tanpa senyum.

"Duh, sepertinya aku kena tilang nih? Memang aku agak terburu-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah."

"Oh ya?
"Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya.Tentu aku tidak boleh terlambat dong."

"Saya mengerti, tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.

"Ooooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

"Jadi kamu hendak menilangku? Sungguh, tadinya aku tidak melewati lampu merah...sewaktu aku lewat lampunya masih kuning.

" Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

"Ayo dong Jon. kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu!

"Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya.Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandang wajah Bobi dengan penuh kecewa. Percuma saja berkawan, pikir Jono.Kawanpun ditilang juga.... Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima senti sudah cukup untuk memasukkan surat tilang.Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela.

Tapi, hey apa ini?
Ternyata SIM-nya dikembalikan dengan sebuah nota.Kenapa ia tidak menilangku? Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

"Halo Jono,Tahukah kamu Jon, dulu aku mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.Pengemudi itu dihukum penjara selama tiga bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya telah tiada.Kami terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya, begitu juga kali ini.Maafkan aku Jon, doakan agar permintaan kami dikabulkan. Berhati-hatilah. Salam, Bobi."

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi.Namun Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu, sambil berharap kesalahannya dimaafkan...

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain.Bisa jadi suka kita tidak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Senin, 21 September 2015

Jam Weker Buat Ayah

Sore itu hujan rintik-rintik dan hari mulai gelap, adzan maghrib baru saja terlewati sekitar 25 menit yang lalu, aku masih terkungkung dibelakang kemudi mobil, menanti macetnya jalan yang luar biasa. Sebagai seorang karyawan, memang aku terbiasa melewati jalan macet seperti ini menuju pulang kerumah.

Rutinitas sebagai kepala rumahtangga mengharuskan aku menjalani hidup pergi pagi dan pulang petang bahkan sampai malam jika pekerjaan menumpuk sangat banyak. Selepas isya aku baru tiba dirumah, langsung mandi dan menikmati santap malam yang dihidangkan istriku.

Tiba-tiba si kecil yang berusia 7 tahun menghampiriku dan memberi sebuah hadiah berupa jam weker miliknya, katanya ia ingin memberikan hadiah agar ayah disayang oleh Allah.

Aku terkejut dengan ucapannya, “maksud kamu apa sayang?, ayah tidak mengerti."

“Ayah, aku ingin ayah disayang Allah”, jawabnya lagi. “iya nak” kita semua ingin disayang Allah, bukan cuma ayah, tapi juga kamu, ibu dan kakak.

“Tapi aku, ibu dan kakak sudah di sayang Allah, ayah belum”

”Dess”

Sesuatu yg tajam seperti menusuk jantungku dan jantungku berdetak keras ketika si kecil berbicara seperti itu. Aku berusaha menerka-nerka kemana arah pembicaraannya, dan apa kesalahanku sehingga anakku bisa berbicara seperti itu. Adakah selama ini kejahatan yang aku lakukan, aku tidak korupsi, juga tidak mencuri. Aku selalu berbuat baik kepada ayah dan ibuku, bersilaturahmi ke rumah saudara dan berbuat baik kepada tetangga. Sungguh aku sangat bingung oleh pernyataan si bungsu tadi.

“Begini ayah, berapa usia ayah sekarang”, aku menjawab, 36 - 37” jawabku

“yah hampir 40 deh” Pungkasku.

“Selama usia itu ayah telah melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, memberi kami nafkah, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, sekolah, rekreasi dan lain-lain”.

“Ya, betul itu dan itu memang tugas ayah” potongku.

“tapi ayah tidak memberikan yang terbaik buat ayah, ayah melupakan diri ayah sendiri”, aku bingung lantas menjawab. “Tentu tidak nak, ayah juga memberi makanan, pakaian, kendaraan buat ayah sendiri” bela ku tak mau kalah.

“Ayah”, anakku mendekatiku seraya berbisik. “Coba ayah hitung, berapa kali ayah meninggalkan sholat maghrib karena kesibukan ayah, berapa kali sholat subuh kesiangan karena ayah kelelahan, berapa kali ayah meninggalkan membaca alquran, belum lagi berapa lama ayah tidak sholat berjamaah di mesjid dan lain-lain ayah...” aku terdiam membisu tak mampu berkata apa-apa.

Melihat aku terdiam, anakku meneruskan kalimatnya.

“Ayah, tadi siang di sekolah, ustadzah bercerita tentang orang-orang yang disayang Allah, orang-orang yang akan selamat selama hidupnya, mereka adalah orang yang ketika mencapai usia empat puluh tahun tetap dalam keadaan beriman dan beramal sholeh.” Usia empat puluh itu merupakan pangkalnya seseorang apakah akan selamat atau tidak” Jika di usia empat puluh masih berbuat bermaksiat, kecil kemungkinan akan kembali kejalan yang benar ayah.”,

“Ketika ustadzah bercerita, aku teringat ayah dan aku menangis sedih. Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan ayah, ayah hampir tak pernah mengajak kami sholat berjamaah, tak pernah mengajari kami mengaji, tak pernah membangunkan kami sholat subuh, ayah begitu asyik dengan dunia ayah, ayah begitu sibuk dengan pekerjaan ayah, dan ayah membiarkan itu terjadi kepada kami. Untung ada ibu yang mengingatkan kami, mengingatkan aku dan kakak untuk sholat dan mengaji.

Tapi aku ingin seperti anak-anak lain ayah, yang begitu riang berangkat ke mesjid bersama ayahnya, mengaji bersama dan berjamaah bersama-sama ayah. Ketika aku mendengar cerita ustadzah, yang ku lihat adalah wajah ayah, wajah ayah yang murung karena tidak disayang Allah, aku tak kuat membayangkan itu semua ayah, karena aku sangat menyayangi ayah, dan aku ingin ayahku juga disayang Allah, bukan cuma aku, kakak atau ibu”. Ayah, ambillah jam weker milikku ini, agar ayah bisa membangunkan aku esok pagi-pagi dan kita bisa sholat berjamaah bersama-sama esok hari.”

Air mataku mengalir deras, membasahi pipiku tiada henti, hatiku berdegup kencang tak karuan. Ternyata selama ini aku hanya memberikan nafkah dunia buat keluargaku, tetapi membiarkan kehidupan akhiratku terbengkalai, aku juga tidak memberikan teladan yang baik buat anak-anakku karena silaunya dunia yang menantangku untuk ditaklukan. “Ya robbi, ampuni aku, ampuni diri ini yang telah tertipu oleh silaunya materi”. “Nak, maafkan ayahmu, ayah telah mengabaikan kamu dan kakakmu selama ini. Tuhan terimakasih kau kirim hidayah melalui anak terkecilku”.

Seraya menghapus air mata aku berkata kepada anakku, “Nak, jangan tunggu besok, sekarang saja kita sholat berjamaah, mari kita berwudhu, mumpung waktu isya baru saja masuk”, ajak kakak dan ibumu bergabung bersama kita.” Anak ku pun tersenyum, terima kasih ayah, aku sangat sayang sama ayah”

Kami pun segera melaksanakan sholat berjamaah, aku saat itu merasa gerogi sekali, aku malu terhadap diriku, apalagi terhadap anak dan istriku, tapi aku tak peduli, aku lebih malu kepada Allah yg telah kulupakan selama ini.

Dalam suara parau, dalam khusuknya doa, aku menangis tersedu-sedu, dan baru kali ini aku merasakan sholat begitu khusuknya, begitu syahdunya.

Dalam sayup-sayup terdengar suara lirih anak ku berdoa “robbighfirli waali-waalidayya warhamhuma kama robbayani shogiiro” dan aku pun membalas “amin ya robb, kabulkan doa anak ku..”

sumber


Kamis, 17 September 2015

Mengasah Kapak

Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!"

Sangat termotivasi pujian majikannya, penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon.

Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkan makin sedikit.

"Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir penebang pohon itu.

Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi.

"Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?" sang majikan bertanya.

"Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon," katanya.

Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kehidupan.

"Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?”

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras, tetapi tidak seharusnya kita begitu sibuk sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup.

Untuk kehidupan pribadi, sediakan waktu untuk membaca, nonton, rekreasi, silaturahmi. Untuk kehidupan akademik, sediakan waktu untuk relaksasi, olah raga, menyanyi, menari dsb.

Bila kita tidak punya waktu untuk mengasah kehidupan, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulai sekarang, pikirkan cara bekerja yang lebih efektif dan tambahkan banyak nilai ke dalamnya. Kita semua perlu waktu untuk tenang, berpikir dan merenung, untuk belajar dan tumbuh berkembang.

Selasa, 15 September 2015

Ibu yang bangga

Alkisah, seorang pemuda sedang berpergian naik pesawat dari kota Bandar Lampung menuju Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda.

“Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu.

” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.

”Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya?” 

"Oh ya tentu ” si Ibu bercerita, ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Bandung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. 

”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?”

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya, Bu. Mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ?“

Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
”Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Hal yang paling penting adalah bukanlah "Siapakah kamu?" tetapi "Apa yang sudah kamu lakukan?"

Kamis, 10 September 2015

Toko Suami

Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di kota New York dimana wanita dapat memilih suami. Diantara instruksi2 yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

"Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI"

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali keluar dari toko..Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko "suami" tersebut untuk mencari suami..

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan cakep

'' Wow'', pikirnya tapi dia masih penasaran untuk terus naik. 

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan. :
Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil ternyata cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.

''Ya ampun!'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya''

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki Di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.

Terima kasih telah berbelanja di toko "Suami". Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

Rabu, 09 September 2015

Tindakan kecil

Bagian hidup yang terbaik dari kehidupan seseorang yang baik adalah tindak-tindakannya yang kecil, tak bernama dan tidak pernah diingat mengenai kebaikan dan cinta.(William Wordsworth)

Pada suatu saat ketika saya masih berumur belasan tahun, ayah dan saya berdiri di antrian untuk membeli tiket pertunjukan sirkus. Akhirnya, hanya tinggal sebuah keluarga di antara kami dan counter tiket. Keluarga tersebut memberikan kesan yang sangat mendalam dalam diri saya. Keluarga itu mempunyai delapan anak, boleh jadi semuanya masih berumur di bawah 15 tahun. Anda bisa mengatakan kalau mereka tidak mempunyai banyak uang. Pakaian mereka tidak mahal, tetapi bersih. Anaka-anaknya mepunyai sikap yang sangat baik, semuanya berdiri antri dengan tertib, dua-dua di belakang orang tua mereka, sambil bergandengan tangan. Mereka semua sangat antusias berbicara tentang badut-badut sirkus, gajah, dan hal-hal lain yang akan mereka lihat malam itu. Orang pasti merasa kalau mereka semua belum pernah melihat sirkus sebelumnya. Nampaknya malam itu akan menjadi momen yang sangat penting dalam kehidupan masa remaja mereka.

Sang ayah dan ibu berada di depan, berdiri dengan bangga. Sang ibu memegang tangan suaminya, menatapnya seolah mengatakan, "Kau adalah ksatriaku dalam pakaian baja yang bersinar."Sang suami tersenyum dan penuh kebanggaan, menatap seolah-olah menjawab, "Memang benar."

Penjual tiket menanyakan kepada sang ayah berapa tiket yang dia inginkan. Dengan bangga dia menjawab, "Saya membeli delapan tiket anak-anak dan dua tiket dewasa agar bisa membawa seluruh keluarga saya untuk menonton sirkus."

Penjual tiket itu lalu mengatakan harga tiket yang harus dibayar. Istri lelaki tersebut melepaskan tangan suaminya, kepalanya terkulai, bibir lelaki itu nampak mulai gemetar. Sang ayah lalu mendekat sambil memiringkan tubuhnya dan berkata, "Berapa?" Kembali penjual tiket mengatakan harganya.

Uang lelaki itu tidak cukup untuk membayarnya. Apa yang akan terjadi seandainya dia berbalik dan mengatakan kepada kedelapan anaknya bahwa dia tidak mempunyai cukup uang untuk membawa mereka melihat sirkus?

Mengetahui apa yang terjadi, ayah saya memasukkan tangan ke saku celananya, mengambil uang 20 dollar dan menjatuhkannya ke lantai. (Kami sama sekali tidak kaya!).

Ayah saya membungkuk, mengambil uang tersebut,dan menepuk bahu lelaki itu dan mengatakan, "Maaf, Pak, uang ini jatuh dari saku Anda."

Lelaki itu mengetahui maksud ayah saya, Jelas dia tidak ingin minta bantuan tetapi yang pasti dia sangat menghargai bantuan tersebut, dalam situasi yang putus asa, menyedihkan, dan juga memalukan. Dia menatap mata ayah saya secara langsung, menyambut tangan ayah ke dalam kedua tangannya, menggenggam erat uang 20 dollar tersebut, dan dengan bibir gemetar dan air mata membasahi pipinya, dia menjawab, "Terimakasih, terimakasih....Pak. Uang ini sangat berarti bagi saya dan keluarga saya."

Akhirnya kami kembali masuk ke dalam mobil dan langsung pulang. Kami tidak jadi nonton sirkus malam itu, tetapi kami merasa senang.