Sabtu, 24 Januari 2015

Andai Aku Menyadarinya dari dulu...

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya  dan mau minta maaf,dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya."

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.

Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
  
Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku   menyadari ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan air mata dipipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!

Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.


Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

Kamis, 22 Januari 2015

Ayah, aku sudah capek


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Oh Ayah, ayah” kata sang anak.

“Ada apa?” tanya sang ayah.

“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja. Aku capek, sangat capek…

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja. Aku capek, sangat capek.

Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus.

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku.

Aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka, mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah” sang anak mulai menangis.

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”Anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. 

Lalu sang anak pun mulai mengeluh ”Ayah mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini ayah”, sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

”Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

”Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? Alhamdulillah”

” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

”Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, Bseperti jalan yang tadi. bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga. Dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

”Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat, begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi ingatlah anakku, ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau Mjatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri. Seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya, maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang, maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar ”


Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Jumat, 09 Januari 2015

Teman Adalah Hadiah dari Allah Untuk Kita



Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek.

Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama.. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
 
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya.
 
Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka.
 
Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANlah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll.
 
It's a defense mechanism. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
 
Mereka tidak akan bilang:                   Mereka akan bilang:

Aku tidak bisa menari"                       "Menari itu tidak menarik."
Aku membutuhkan kamu"                  "Tidak ada yang cocok denganku."
Aku kesepian"                                     "Teman-temanku sudah lulus semua"
Aku butuh diterima"                           "Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku.."
Aku ingin didengarkan"                      "Kisah hidupku membosankan.."

Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
 
Berikanlah makna di dalam kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dalam lingkungan kehidupan Anda. Berikanlah waktu Anda dengan digabung oleh rasa kasih.  
 
Seorang sahabat sama seperti satu permata yg tak ternilai harganya. Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur. Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya. Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dgn kita pada saat kita membutuhkannya.
 

Maka dari itu janganlah buang waktu yg Anda miliki, janganlah sia-siakan waktu yg sedemikian berharganya. Bagikanlah sebagian dari waktu yg Anda miliki untuk seorang kawan. Pasti waktu yg Anda berikan tersebut akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran walaupun terkadang kita tidak tahu dari mana dan dari siapa datangnya.


Jumat, 05 Desember 2014

Mencintai Harus Memiliki

“Mencintai tak harus memilki…,” demikian syair sebuah lagu yang terdengar di radio. Ini kisah cinta yang tak kesampaian, entah karena cinta tak berbalas, maupun dua insan yang saling mencintai tapi terpaksa tak bisa bersatu.

Ini kisah si Lanang, sebut saja namanya begitu, yang cinta setengah mati kepada Melati, gadis idamannya sejak masa SMA. Cinta si Lanang tak berbalas. Selain mungkin Melati tidak tertarik dengan Lanang, mungkin juga faktor beda keyakinan antara keduanya telah menjadi kendala.

Lanang adalah pemuda yang brilyan dalam pelajaran. Prestasinya mengagumkan. Namun dalam urusan cinta, tampaknya Lanang tak bisa berpikir jernih. Ketika Melati menikah dengan orang lain, Lanang masih mencintai. Ketika Melati sudah berputra, Lanang pun masih mencintai. Melati adalah ‘cinta sejati’ Lanang (tentu saja menurut versi Lanang sendiri).

Kuliah Lanang akhirnya berantakan. Menurut teman-temannya, tampaknya masalah cinta kepada Melati memberi andil utama kacaunya konsentrasi Lanang kepada kuliahnya. Hidup Lanang berantakan karena kesetiaan kepada cintanya sendiri. Ah, Lanang, seharusnya kau tahu bahwa mencintai tak harus memiliki….

Apakah di antara Anda ada yang mengalami kasus mencintai tapi tak memiliki? Pendapat saya, mencintai harusnya memiliki. Kalau tidak bisa dimiliki, JANGAN dicintai (atau kurangilah cinta Anda).

Baik, agar lebih netral, boleh mencintai tanpa memiliki, tapi CINTAILAH YANG ANDA MILIKI.

Banyak terjadi pasangan suami istri yang diam-diam masih berselingkuh hatinya. Salah satu dari mereka masih memendam cinta yang amat sangat kepada ‘cinta sejati’nya. Hatinya masih terus mengingat masa lalunya. Sementara mungkin yang sedang ia ingat itu tidak balas mengingatnya sedikitpun. Sebaliknya, pasangan yang kini dimiliki dan memiliki, justru tidak mendapat cinta yang penuh. Bayang-bayang masa lalu masih melekat, bagaikan beban berat di punggung yang tak bisa dilepaskan.

Bila Anda mencintai sesuatu, kemudian gagal memilikinya, relakan saja. Punahkan cintamu itu dan arahkan kepada yang bisa engkau miliki. Kemampuan melepaskan apa yang luput dan hilang darimu adalah bagian dari keimananmu kepada Tuhan. Pantaskah kita menganggap apa yang terbaik bagi kita adalah yang luput itu? Mengapa tidak kita syukuri apa yang diberikan-Nya kepada kita?

Mencintai sesuatu yang tidak dimiliki sebenarnya adalah tindakan yang buruk, karena menguras energi. Cinta adalah perhatian yang memerlukan energi perasaan dan pikiran. Mencintai memerlukan energi. Karena itulah yang terbaik adalah saling mencintai, suatu kondisi saling memberi energi. Bila kita saling mencintai, maka kedua pihak akan semakin sehat dan tumbuh. Bila hanya salah satu yang mencintai, maka si pecinta akan terus mengeluarkan energinya dan suatu saat mengalami kemunduran, fisik maupun mental. Hanya mereka yang punya tingkatan ikhlas tinggi sajalah, mampu menyerap dengan mudah energi dari alam semesta untuk kemudian disalurkan menjadi energi cinta kepada makhluk lain. Dan kalau memang punya keikhlasan tinggi, bukankah sangat mudah untuk melepaskan apa yang luput itu?
  
Bila Anda pernah mencintai seseorang, dan lalu menjadi milik orang lain. Punahkan cintamu kepadanya. Carilah sosok lain yang bisa mengimbangi cintamu, dan cintailah sepenuh-penuhnya. Cinta searah tak akan menumbuhkan, cinta dua arah akan saling menumbuhkan.

Kisah si Lanang adalah kisah nyata seorang teman saya. Syukurlah, setelah kejatuhan yang begitu menyakitkan, kini dia bisa menerima dan memulai kehidupan yang baru.


Mencintai tak harus memiliki. Setelah gagal memiliki, tak usahlah terus mencintai. Carilah ganti, dan kemudian cintailah apa yang kau miliki.